Beginilah Jalan Dakwah Mengajarkan Kami

# Dari sini kami memulai #

Mengapa berada di jalan dakwah ?

pastinya kita berfikir, apa alasan kita berada di jalan dakwah ini ? mari kita lihat alasan dasar mengapa kita berada di jalan dakwah ini…

Sesungguhnya jalan dakwah ini adalah kebutuan kami sendiri. Rasa kebutuhan yang melebihi sekedar merasakan bahwa jalan ini merupakan kewajiban yg harus kami lakukan. Bahkan lebih dari sekedar kebutuhan, karena kami melangkah di jalan ini merupakan bagian dari rasa syukur kami atas hidayah Allah SWT kepada kami.

”barang siapa mengajak kepada petunjuk Allah, maka ia akan mendapat pahala yang sama seperti jumlah pahala orang yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikitpun oleh pahala mereka” (HR. Muslim)

alasan lainnya,adalah karena da’wah akan menjadi penghalang turunnya azab Allah SWT. Bisa liat Qs. Al a’raf :164, ada 3 golongan manusia. Meraka adalah golongan enyeru da’wah yang shalih, golongan shalihin tapi tidak meyerukan da’wah dan orang- orang yang mengingkari dakwah .

golongan orang- orang yang shalih yang telah berdakwah dan berupaya mewujudkan perbaikan, mengangkat alasan kepada Rabb mereka. Sementara golongan orang- orang shalih yang mengingkari tugas dakwah mengatakan, tdak ada gunanya mendakwahkan orang- orang sesat dan sudah menyimpang.

Teman- teman pilihan

Perjalanan dalam dakwah ini, juga bisa dikiaskan dengan perjalanan dalam urusan lain yang memerlukan syarat- syarat sendiri. Dan salah satu syarat perjalanan dakwah adalah : ar rafiiq ash shaalih (teman yang baik). Secara otomatis melalui tahap seleksi,dengan berbagai rinangan dan cobaan  di jalan dakwah.

Kami dan Amal Jama’i

Amal Jama’i adalh suatu pekerjaan secara jama’ah, tidak sendiri- sendiri. keharusan yang wajib kami penuhi dalam upaya menyeru kebenaran dan melarang yang munkar itu merupakan salah satu tututan yang diperintahkan.

Jika kalian tidak saling membantu dan mendukung satu sama lain, sebagaimana yang dilakukan orang- orang kafir, pasti fitnah dan kerusakan akan merajarela. Itu karena mereka bersatu dan kalian saling meninggalkan.

Itu sebabnya, tandzhim atau organisasi dakwah itu sangat diperlukan. Kebutuhan mendesak terhadap adanya tandzhim itu sendiri adalah aplikasi paling pertama setelah kami menyadari bahwa amal jama’i itu suatu keharusan. Bekerja untuk islam mutlak memerlukan sebuah organisasi, perlu adanya pimpinan yang bertanggung jawab, menjelaskan tujuan dan sarana serta semua diperlukan oleh suatu aktifitas dakwah dalam mereaisasikan tujuannya. Dalam kebersamaan seperti itulah kami menempuh dakwah ini.

Perjalanan ini mutlak memerluakan pemimpin

Pemimpin kami adalah orang yang dianggap memiliki kelebihan dalam permasalahan yang sangat dibutuhkan dalam menempuh perjalanan. Dan dalam dakwah, para pemimpin dalah mereka yang memiliki keistimewaan dalam akhlak, ukhuwah,idariyah (manajemen).

Jalan ini, miniatur perjalanan sesungguhnya

Jiwa toleran, adalah salah satu pelajaran berharga yang kami petik dari jaln dakwah. Perhimpunan dan perkumpulan kami setiap pekan dalam waktu bertahun- tahun menyababkan kami mengalami berbagai situasi dimana kami belatih bersikap.

Kebersamaan kami bukan tanpa perselisihan. Boleh jadi ada diantara kami menalami kesenjangan hubungan karena satu dan lain hal. Padahal, keharusan kami untuk bersama dan kemungkinankami berselisih adalah dua kutub yang saling berlawanan. Kebersamaan membutuhkan kesepakatan, kekompakkan, kesesuaian, kedekatan, dan keintiman. Sementara perselisihan bisa mengakibatkan kesenjangan, ketidaksukaan, kebencian, hingga keterpisahan.

Maka, dijalan inilah,kami berulang kali menimpa diri untuk bisa mengarahkan perselisihan tidak berakibat pada perpecahan.

Tiga karakter pnempuh perjalanan

Ibnul Qayyim Al Jauziah menyebutkan bahwa dijalan ini ada 3 kelompok manusia, mereka adalah : golongan zaaimun li nafsihi, golongan muqtashid, golongan saabiqun bil khairaat.

  1. golongan zaaimun li nafsihi, adalah orang- orang yang lalai dalam mempersiapkan bekal perjalanan. Merka enggan untuk mengumpulkan apa- apa yang bisa membuatnya sampai ke tujuan.
  2. golongan muqtashid, adalah mereka yang mengambil bekal secukupnya saja untuk bisa smpai ke tujuan perjalanan., mereka tidak memperhitungkan bekal apa yang harus dimiliki dan mereka bawa jika ternyata mereka harus menghadapi situasi tertentu, yang menyulitkan perjalanan mereka.
  3. golongan saabiqun bil khairaat, yakni orang-orang yang obsesinya adalah untuk meraih keuntungan yang sebesar- besarnya. Begitu pentingnya, bekal ketaqwaan yang erat kaitannya dengan modal ruhiyah kami di jalan ini, maka setiap kali ketaqwaan kami melemah, pada saat itulah intensitas dakwah kami menurun.dan ketika tingkat ketaqwaan kami berkurang dari seharusnya, ketika itulah kami mengalami situasi futuur (kelemahan) untuk meneruskan perjalanan ini. Seperti itulah pelajaran yang kami temukan dalam diri kami, dan juga saudara- saudara kami di jalan ini.

# ketika kami membangun kebersamaan #

Menjadi batu bata dalam bangunan ini

Pada dasarnay dakwah ini adalah sebuah estafeta perjuangan. Sebagaimana dakwah yang diserukan para nabi terdahulu, dilanjutkan dan disempurnakan dengan dakwah yang diperjuangkan Rasulullah SAW.

Kami ingin menjadi batu bata dalam bangunan dakwah yang agung ini. Sebuah bangunan yang telah dirintis oleh para anbiya dan orang-orang shalih. Bangunan dakwah unuk menyeru manusia untuk kembali ke jalan Allah SWT.

Batu bata yang unik dan khas

Kekhasan, keunggulan, keunikan, penting untuk kami miliki. Sebagaimana para nabi, dan salafus shalih, memiliki kriteria istimewaannya yang menghiasi perjalnan mereka dalam memperjuangkan agama Allah SWT.

Untuk menolong, bukan ditolong

Menjadi da’i sekaligus merupakan pernyatan bahwa kami inin memberi perhatian dan pertolongan kepada orang lain. Bukan sebaliknya, untuk lebih menerima perhatian dan ditolong orang lain. Di jalan ini, kami harus memberikan lebih banyak untuk kemaslahatan masyarakat dan umat islam, ketimbang kemaslahatan yang bersifat pribadi.

Berjalan dengan keseimbangan ibadah dan Mu’amalah

Jalan ini membentuk kami memiliki pradigma keislaman yang utuh, mengenai semua nilai- nilai islam yang menjadi hajat kehidupan.

Sebak- bak bekal adalah taqwa

Dalam tafsir Ar Raazi, disebtkan 5 perbandingan antara keduannya (dunia & akhirat) :

  1. pebekalan dalam perjalanan di dunia, akan menyelamatkan kita dari penderitaan yang belum tentu terjadi.
  2. pebekalan dalam perjalanan di dunia, setidaknya akan menyelamatkan kita dari kesulian sementara
  3. pebekalan dalam perjalanan di dunia akan mengantarkan kita pada kenikmatan dan pada saat yang sama mungkin saja kita juga mengalami rasa sakit, keletihan dan kepayahan
  4. pebekalan dalam perjalanan di dunia meimiliki karakter bahwa kit akan melepaskan dan meninggalkan sesuatu dalam perjalanan.
  5. pebekalan dalam perjalanan di dunia akan mengantarkan kita pada kepuasan syahwat dan hawa nafsu.

Bekal taqwa, termasuk komitmen dengan jama’ah dakwah

Bersama jama’ah dakwah, kami mendapati keberkahan dalam perbekalan kami di jalan ini. Kami membandngkan bahwa kenyataan keberkahan kebersamaan kami di jalan ini sama dengan kebersamaan kami dengan teman-teman yang baik semakin memberi perlindungan dan keamanan kepada kami sepanjang perjalanan.

Kebersamaan kami terikat lima hal

Ada lima ikatan yang setidaknya mengharuskan kami tetap berada disini :

  1. rabithtu al ’aqidah (ikatan aqidah). Kesamaan imanlah yang menghimpun dan mengikat kami bersama saudara- saudara kami disini.
  2. rabithtu al fikrah (ikatan pemikiran). Kami disatukan oleh kesamaan ide, gagasan, keinginan dan cita-cita hidup yang kami yakini merupakan sarana yang bisa menyampaikan kami kepada keridhoan Allah SWT.
  3. rabithtu al ukhuwwah (ikatan persaudaraan). Kami dijalan ini, terikat dengan ruh persaudaraan yang tulus.
  4. rabithtu al tanzhim (ikatan organisasi). Kami mempunyai disiplin dan aturan yang disepakati untuk diberlakukan selama kami berada di jalan ini.
  5. rabithtu al ’ahd (ikatan janji). Di jalan ini, kami masing- masing telah mengikrarkan janji.

Afiliasi formal (intima tanzhimi) dan afiliasi non formal (intima afawi)

Di jalan ini pula kami belajar, bahwa tak semua manusia hurus terikat secara formal dalam perjuangan menegakkan dakwah ini. Meski menempuh jalan ini merupakan cara yang lebih mendekatkan diri kepada al haq, namun tidak berarti semua orang yang tidak berada disini, dan tidak berarti tanpa afiliasi secara institusi dengan kami, berarti pihak yang bersebrangan dengan kami. Karena hal itu, kami bisa memahami sikap yang diambil atau kondisi yang mengelilingi saudara- saudara kami yang tidak berada bersama kami dalam komunitas dakwah kami.

Yang melemahkan ikatan dalam amal jama’i

Ada beberapa keadaan yang umumnya bisa melemahkan seseorang dalam hal amal jama’i :

  1. masalah al fahm (pemahaman).pelurusan pemahaman yang benar tentang amal jama’i, harus dilakukan terlebih dahulu kepada siapapun yang ingin bergabung di dalamnya.
  2. ketakutan dan kekhawatiran. Dalam situasi seperti ini, kami harus memperkuat keyakinan kepada Allah SWT bahwa apapun yang menimpa kami belum tentu karena kesalahan kami.
  3. motif ketertarikan terhadap individu, bukan kepada manhaj (sistem dan cara)

Tsiqah,sebagai maharnya

kepercayaan/keyakinan yang kuat membuat kami secara bersama- sama mampu membuahkan kerja-kerja dakwah yang baik. Dan tanpanya, takada amal dakwah yang baik ang bisa dihasilkan. Kami menyebutnya sebagai mahar dalam perjalanan ini.

Promosi penempatan di jalan dakwah

Nabi SAW meringkas kaidah penting dengan dua kata, menunaikan haknya (haqqiha), dan menjalankan tugasnya (adda al-ladzi alaihi fiiha). Itulah kunci atau kriteria utama dalm memilih orang- orang yang dilimpahkan tanggung jawab memimpin.

Pengalaman di jalan dakwah mengajarkan beberapa langkah strategis agar tercipta keselarasan antar kami dengan saudara- saudara di jalan ini :

  1. kami harus bertanya lebih dahulu kepada diri sendiri.
  2. kami harus menunaikan tugas yang telah dibebankan dengan sebaik- baiknya. Jangan sampai ketidakpuasan terhadap posisi tertentu membua malas menunaikan tugas dan kewajiban.
  3. kami harus membiasakan untuk menunjukkan keahlian dan memperkenalkannya dengan baik kepada pemimpin dan saudara- saudara di jalan ini.
  4. terus terang kepada sesama saudara dan pimpinan tentang permasalahan yang ada kaitannya dengan dakwah dan mengusik.
  5. selalu berharap kepada Allah melalui doa dalam shalat, sujud, dan waktu- waktu mulia agar dikaruniakan amal shalih yang mendekatkan kia kepada-Nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: