6 Kewajiban Da’i Saat Menghadapai Ujian

TAQWIYATU RUHIT-TADHHIYAH (Memperkuat Jiwa Pengorbanan)

Apa yang membedakan pecinta sejati dengan pecinta gombal? Yang membedakannya adalah pengorbanan. Semakin besar cinta seseorang, semakin besar pula pengorbanan yang ia berikan untuk sang kekasihnya atau sesuatu yang dicintainya itu.

Soal pengorbanan bagi kecintaan juga berlaku dalam kancah dakwah. Lihat, apa yang dilakukan Abu Bakar Shiddiq untuk membela yang paling dicintainya yakni Rasulullah saw dan dakwah. Saat genting-gentingnya situasi menjelang hijrah Rasulullah saw. ke Madinah, Abu Bakar –semoga Allah meridhoinya- tampil dengan segala pengorbanan untuk menyelamatkan dakwah. Ia pasang badan untuk menjadi tameng Rasulullah saw. dari segala kemungkinan buruk yang direncanakan oleh orang-orang kafir Quraisy. Ia korbankan pula hartanya. Bahkan ia kerahkan anggota keluarganya untuk turut berkontribusi bagi dakwah. Apa yang beliau lakukan itu sesuai benar dengan ungkapannya sendiri, “Hal yanqushud-dinu wa ana hayyun” (Tidak boleh Islam berkurang sementara saya masih hidup).

Kepada orang seperti itulah pujian Allah swt ditujukan:
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (QS. 9:111)

Dan semangat itu pula yang ingin ditumbuhkan kembali oleh Ustadz Hasan Al-Banna ke dalam jiwa para da’i, sebagaimana tercantum dalam risalah “Ilaa Ayyi Syai-in Nad’un-Nas” (Ke mana Kita Mengajak Manusia?). Pesan itu menegaskan: jika kita ingin menempa umat, membuat mereka bangkit untuk mencapai cita-cita mereka, yaitu kejayaan dan kemenangan, maka kita harus memiliki quwwatun nafsiyyah (kekuatan jiwa). Dan kekuatan jiwa, menurut pendiri Jama’ah Ikhwanul Muslimin itu tercermin pada empat hal yang salah satunya adalah pengorbanan.

Meski demikian, keempat hal ini saling berjalin berkelindan, hingga satu sama sama lain tidak dapat dipisahkan, yakni:

1.Motivasi kuat yang tidak terjangkiti keloyoan.
Modal dasar pengorbanan adalah kekuatan motivasi. Ia juga merupakan syarat mutlak bagi perjuangan untuk kebangkitan dan kejayaan umat. Allah tidak akan menurunkan kemenangan kepada bangsa yang bermental kalah. Surga pun hanya akan menjadi milik orang yang memiliki kekuatan motivasi: “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya. niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di surga ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.” (QS. As-Shaf / 61: 10-13)

Saat kaum Muslimin berhadapan dengan pasukan Quraisy dalam perang Badar, Rasulullah saw. mengatakan kepada para sahabat, “Bangkitlah kalian menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi!” Demi mendengar kalimat itu, ‘Umair bergumam, “surga seluas langit dan bumi? Wah, wah!” Mendengar itu Rasulullah saw. bertanya, “Apa yang membuatmu mengucapkan kata itu?” ‘Umair menjawab, “Tidak apa-apa, saya cuma ingin termasuk penghuninya.” Rasulullah saw. menjawab, “Ya kamu termasuk penghuninya.”
‘Umair yang tengah memakan kurma pun lantas berkata, “Sungguh terlalu lama bila saya harus menunggu habisnya kurma ini.” Maka ia pun meletakkan kurma-kurma di tangannnya lalu menyeruak masuk ke tengah barisan musuh untuk bertarung hingga mati syahid. (Kisah ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim, dan lain-lain)

2.Kesetiaan yang tangguh yang tidak dihinggapi kepura-puraan dan pengkhianatan.
Kekuatan pengorbanan tidak hanya diukur dengan pengorbanan fisik dan material. Kesetiaan, kesabaran dan konsistensi dalam memperjuangkan kebenaran juga merupakan wujud pengorbanan. “Dan orang-orang yang sabar dalam rangka mengharap wajah Tuhan mereka dan mendirikan shalat serta menginfakkan sebagian yang Kami rizkikan secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, bagi mereka itulah tempat tinggal akhir yang baik.” (Ar-Ra’d 22)

Kualitas pengorbanan seseorang tidak diukur oleh semangat semata-mata namun juga oleh wafa tsabit (kesetiaan yang tangguh). Sejarah merekam orang-orang yang memiliki wafa tsabit itu bahkan dalam kondisi yang paling menyakitkan dalam hidupnya, hingga bumi yang luas ini dirasakan sempit olehnya.

3.Pengorbanan agung yang tidak terganjal oleh ketamakan dan kekikiran.
Pemuliaan itu adalah pengorbanan. Ini pula yang disampaikan Rasulullah saw kepada seorang sahabat bernama Basyir Bin Al-Khashashiyyah. Ia datang kepada Rasulullah saw. untuk berbai’at atas Islam. Rasulullah saw. mensyaratkan kepadanya untuk bersaksi tiada tuhan selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya; melaksanakan shalat lima waktu; berpuasa di bulan Ramadhan; mengeluarkan zakat; menunaikan haji; dan berjihad di jalan Allah. mendengar itu semua, Basyir menyahut, “Ya Rasulullah, yang dua hal (terakhir itu), saya tidak mampu. Tentang zakat, saya tidak punya harta selain sepuluh ekor unta. Dan itu adalah andalan dan kendaraan keluarga saya. Sedangkan tentang jihad, saya dengar orang-orang mengatakan bahwa siapa yang lari dari medan jihad maka ia akan mendapatkan murka Allah. Dan saya memang orang yang penakut.” Mendengar itu Rasulullah menarik kembali tangannya kemudian menggerak-gerakkannya seraya mengatakan, “Wahai Basyir, tanpa shadaqah dan tanpa jihad? Lalu dengan apa kamu akan masuk surga?” Basyir akhirnya menjawab, “Jika demikian, saya berbai’at untuk semua itu.” (Kisah ini diriwayatkan oleh Al-Hakim, Al- Baihaqi, dan lain-lain)

4.Memahami, meyakini, dan menghargai prinsip.

Ada banyak kasus soal kelunturan dan pencairan idealisme. Begitu pula semangat mengebu-gebu dan pengorbanan yang ternyata hanya bertahan semusim saja. Salah satu penyebabnya karena semangat dan pengorbanan itu tidak disertai dengan pemahaman, melainkan muncul hanya kerena terkompori lingkungan atau oleh situasi yang menghimpit. Akibatnya semangat tersebut tidak mengakar dan hanya menjadi letupan-letupan emosi yang bersifat reaksional.

Oleh karena itu, perjuangan dan pengorbanan harus berangkat dari pemahaman terhadap segala sisi Islam. Dengan kata lain pemahaman ini harus bersifat syamil (integral dan komprehensip).

Apa yang menyebabkan kaum muslimin generasi awal begitu tangguh dan konsisten saat diterpa badai ujian dan fitnah? Salah satu sebabnya karena mereka memahami Islam secara murni seperti apa yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Maka segala badai ujian justeru menambah kokoh dan kuatnya iman dan pengorbanan mereka. “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik (kalimat tauhid) bagaikan pohon yang baik. Akarnya menghujam bumi dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap saat dengan seizin Tuhannya.” (Ibrahim 25)

Pengorbanan generasi-generasi terdahulu telah ditorehkan. Atas izin Allah, dengan pengorbanan mereka Islam mendapatkan jalan untuk merambah relung hati dan jiwa manusia. Lalu, apa pengorbanan kita?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: