PDKT Dakwah

coba menyadur tulisan tangan dari Ust.Musyaffa Abdurrahim Lc.

Pendekatan Da’wah

Ada satu buku yang menarik kita cermati.Buku itu berjudul, Nahnu Du’atun, La Qudhaatun. Artinya, kita ini adalah para da’i, bukan tukang vonis.
Buku ini menurut saya menarik karena sepanjang yang saya ketahui, da’wah itu bersifat seruan, ajakan, dan tawaran2 yg bersifat m’nyenangkan (tentunya sebatas tdk b’tentangan dgn syariat Islam). Al Fairuz Abadi dlm bukunya Mukhtarush-Shihhah-nya mendefinisikan da’wah itu secara bahasa berarti mengajak.
Sepanjang yang saya ketahui juga da’wah itu mempergunakan kaidah :

Memberi berita gembira, bukan menakut-nakuti – At tabsyiiru lat tanfiiru
Ternyata yang menetapkan kaidah ini adalah Rasulullah saw, sbgm diriwayatkan oleh Imam Muslim :

Dari Abu Musa r.a, ia berkata,
” Rasulullah saw, setiap kali mengutus seseorang dari sahabatnya untuk suatu urusan, beliau bersabda, “Berilah berita gembira dan jangan membuat orang lari, permudah dan jangan mempersulit. ”

Nah, kalau buku tadi menggambarkan bahwa ada sekelompok dai yang senang memvonis, jelas hal itu tidak sejalan dengan kaidah da’wah yang telah ditetapkan oleh Rasulullah saw. tsb

Bahkan Al Qur’an menjelaskan kepada kita bahwa dengan pendekatan dakwah yang baik (billati hiya ahsan), seseorang yang tadinya sangat memusuhi da’wah bisa berubah menjadi seakan-akan teman yg sangat dekat.

Di (Qs.Fushshilat 33-34) sudah diterangkan,
“Siapakah yang lebih baik perkataannya dari pada orang yang menyeru (dai) kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih dan berkata, ” Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim, “Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan.Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia!”.

Seorang ulama mengatakan ,jadi jurus yang dipakai oleh dai itu paling tinggi hanyalah daf’ (bahasa qur’annya idfa’) – yang kalau kt tjemahkan secara harfiah mungkin berarti dorong-mendorong, bukan shira’ (konflik).”Konflik itu membuat banyak pihak sakit hati, sehingga dgn semakin maraknya da’wah, orang2 yg sakit hati pd para dai – dan kepada da’wah sbg dampaknya – juga semakin banyak. Dampak selanjutnya, yg memusuhi da’wah juga makin banyak. Padahal dgn pendekatan idfa’ billati hiya ahsan orang yang tadinya bermusuhan saja seolah-olah menjadi teman yg sangat setia.

Ibnu Taimiyyah r.a merumuskan perlu adanya beberapa hal :

1. Sebelum da’wah, kita harus punya ilmunya dulu, ilmu apa yg kita da’wahkan, ilmu ttg orang yg kita da’wahi (psikologisnya, situasi, dan kondisi, dsb), dan ilmu ttg strategi menyampaikan da’wah tsb secara tepat.

2. Saat berda’wah kita harus menyampaikannya dengan rifq (lembut,lunak – tapi tidak lembek ya – ).

3. Setelah berda’wah kita harus bersabar menerima hasil dan dampak da’wah yg sudah kita lakukan.

Ada kaidah yang harus kita perhatikan yaitu,” Kemenangan da’wah bukanlah dengan menghitung orang yg bergelimpangan di hadapan sang dai sebagai akibat konflik yg dtimbulkannya, akan tetapi dengan menghitung banyaknya waliyyun hamim (teman-teman setia) sang dai yg sebelumnya merupakan musuh si dai (fa idzalladzi bainaka wabainahu ‘adawatuni)

Maka saat kita berda’wah ini tentunya harus lebih lembut, jangan main vonis, jangan membuat orang lari dan membenci da’wah, apalagi memusuhi da’wah.

Teringat kisah ketika Hasan Al Banna diundang oleh murid-muridnya ‘tuk jadi penceramah di daerah yang didominasi oleh tokoh2 tarekat.Karena merasa wilayahnya akan didatangi orang baru, para tokoh tarekat itu berkumpul dan berencana menggagalkan rencana ceramah Hasan Al Banna tersebut.

Namun tanpa diduga oleh mereka, pintu tempat mereka berkumpul diketuk orang. Mereka bertanya, ” Siapa mengetuk pintu?” ” Hasan,” jawab yang di luar. Mereka saling berpandangan, Hasan manakah ia?. Karena tidak mendapatkan kepastian, merekapun bertanya lagi, “Hasan siapa?” ” Hasan Al Banna,” jawab yang di luar pintu. Maka Hasan Al Banna pun dipersilahkan masuk.

Singkat cerita, Hasan Al Banna meminta izin dari mereka untuk berceramah di daerah itu. Mereka pun secara aklamasi mempersilahkan Hasan Al Banna untuk berceramah di daerah itu, bahkan mereka mengerahkan murid-muridnya untuk menghadiri ceramah itu.

Subhanallah. .
Idfa’ billati hiya ahsan, faidzalladzi bainaka wa bainahu ‘adawatun kaannahu waliyyun hamiiim. -Fushshilat 34

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: