Puasa Sunnah Sebelum Qadha Ramadhan

Bolehkah melakukan puasa sunah sebelum mengqadha ramadhan?

Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, wa ba’du

Ulama berbeda pendapat tentang hukum melakukan puasa sunah sebelum melaksanakan qadha ramadhan.

Pertama, Sebagian ulama berpendapat, tidak sah melakukan puasa sunah, sebelum melaksanakan qadha ramadhan. Bahkan mereka menegaskan, orang yang melakukan puasa sunah sebelum qadha ramadhan, dia berdosa. Pendapat ini didasari alasan bahwa amal sunah, tidak boleh dilaksanakan sebelum amal wajib, jika waktunya bersamaan.

Kedua, ulama lainnya berpendapat, boleh melakukan puasa sunah sebelum qadha ramadhan, selama waktunya masih longgar. Sebagaimana orang yang melakukan shalat sunah sebelum melaksanakan shalat wajib. Sebagai contoh, shalat dzuhur. Waktunya dimulai sejak zawal, hingga bayangan benda sama dengan tingginya. Seorang muslim berhak untuk melaksanakan shalat dzuhur pada rentang waktu tersebut. dan pada rentang waktu ini, dia boleh melakukan shalat sunah sebelum melakukan shalat dzuhur, karena waktunya longgar.

Pendapat kedua ini merupakan pendapat mayoritas ulama, dan yang dikuatkan Imam Ibnu Utsaimin, dimana beliau mengatakan:

وهذا القول أظهر ، وأقرب إلى الصواب ، وأن صومه صحيح ، ولا يأثم ، لأن القياس فيه ظاهر … والله تعالى يقول : ( ومن كان مريضاً أو على سفر فعدّة من أيام أخر ) البقرة/185 ، يعني فعليه عدّة من أيام أخر ، ولم يقيّدها الله تعالى بالتتابع ، ولو قيّدت بالتتابع للزم من ذلك الفورية ، فدل هذا على أن الأمر فيه سعة

“Inilah pendapat yang lebih kuat, yang lebih mendekati kebenaran. Puasanya sah, dan dia tidak berdosa. Karena qiyas dalam kasus ini jelas. … Allah berfirman:

ومن كان مريضاً أو على سفر فعدّة من أيام أخر

“Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (sehingga tidak puasa) maka dia qadha sesuai dengan hitungan di hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Artinya, dia wajib qadha sesuai dengan hitungan dia tinggalkan puasa di hari yang lain. Allah tidak membatasi, harus secara berurutan (setelah ramadhan). Andai Allah batasi dengan keharusan berurutan, tentu wajib dilakukan dengan segera. Maka ini menunjukkan bahwa ada kelonggaran dalam masalah ini.” (Simak Syarhul Mumthi’, 6/448).

Disadur dari Fatwa islam, no. 23429

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)
Baca selengkapnya: http://www.konsultasisyariah.com/puasa-sunnah-sebelum-qadha-ramadhan/#ixzz2UNfgIZs5

Merubah Niat Puasa Sunnah Menjadi Puasa Qadha

Pertanyaan:

Ada orang yang terbiasa melakukan puasa Senin dan Kamis. Ketika sedang melakukan puasa hari Senin, dia teringat belum melakukan qadha Ramadhan. Bolehkah dia mengubah niat puasa sunah Senin tersebut menjadi puasa qadha?

Dari: Abdullah

Jawaban:

Pertanyaan serupa pernah disampaikan ke lembaga fatwa Syabakah Islamiyah, di bawah bimbingan Dr. Abdullah al-Faqih. Dalam keterangannya dinyatakan

فالأيام التي صمتها لا تجزئك عن صيام قضاء رمضان؛ لأن صيام القضاء يشترط فيه تعيينه بالنية المبيتة قبل طلوع الفجر الصادق، ولا يجزئك تغيير النية

Puasa sunah yang Anda lakukan, tidak bisa dinilai sebagai puasa qadha Ramadhan. Karena dalam puasa qadha, disyaratkan menentukan niat di malam hari sebelum terbit fajar (sebelum subuh). Dan tidak sah mengubah niat. (Fatawa Syabakah Islamiyah, no. 78865)

Orang yang melakukan puasa Senin, belum berniat puasa qadha sebelum subuh. Sehingga, ketika dia mengubah niatnya, berarti dia melakukan niat puasa qadha setelah subuh, sehingga puasa qadhanya tidak dinilai.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasSyariah.com)

Baca selengkapnya: http://www.konsultasisyariah.com/mengubah-niat-puasa-sunah-menjadi-puasa-qadha/#ixzz2UNf31GSM

Adakah Puasa Bulan Rajab?

Pertanyaan:

Akhir-akhir ini, banyak orang yang berpuasa di awal bulan Rajab. Saya ingin bertanya, apakah ada tuntunannya dari Rasulullah puasa hanya di awal bulan Rajab atau hanya beberapa hari saja di bulan Rajab?

Hendra Irawan (**hendra@***.com)

Jawaban:

Bismillah. Tidak terdapat amalan khusus terkait bulan Rajab, baik bentuknya shalat, puasa, zakat, maupun umrah. Mayoritas ulama menjelaskan bahwa hadis yang menyebutkan amalan di bulan Rajab adalah hadis dhaif dan tertolak.

Ibnu Hajar mengatakan, “Tidak terdapat riwayat yang sahih yang bisa dijadikan dalil tentang keutamaan bulan Rajab, baik bentuknya puasa sebulan penuh, puasa di tanggal tertentu di bulan Rajab, atau shalat tahajud di malam tertentu. Keterangan saya ini telah didahului oleh keterangan Imam Abu Ismail Al-Harawi.” (Tabyinul Ujub bi Ma Warada fi Fadli Rajab, hlm. 6)

Imam Ibnu Rajab mengatakan, “Tidak terdapat dalil yang sahih yang menyebutkan adanya anjuran shalat tertentu di bulan Rajab. Adapun hadis yang menyebutkan keutamaan shalat Raghaib di malam Jumat pertama bulan Rajab adalah hadis dusta, batil, dan tidak sahih. Shalat Raghaib adalah bid’ah, menurut mayoritas ulama.” (Lathaiful Ma’arif, hlm. 213)

Terkait masalah puasa di bulan Rajab, Imam Ibnu Rajab juga menegaskan, “Tidak ada satu pun hadis sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang keutamaan puasa bulan Rajab secara khusus. Hanya terdapat riwayat dari Abu Qilabah, bahwa beliau mengatakan, ‘Di surga terdapat istana untuk orang yang rajin berpuasa di bulan Rajab.’ Namun, riwayat ini bukan hadis. Imam Al-Baihaqi mengomentari keterangan Abu Qilabah, ‘Abu Qilabah termasuk tabi’in senior. Beliau tidak menyampaikan riwayat itu, melainkan hanya kabar tanpa sanad.’” (Lathaiful Ma’arif, hlm. 213)

Akan tetapi, jika seseorang melaksanakan puasa di bulan Rajab dengan niat puasa sunah di bulan-bulan haram maka ini diperbolehkan, bahkan dianjurkan. Mengingat sebuah hadis yanng diriwayatkan Imam Ahmad, Abu Daud, Al-Baihaqi dan yang lainnya, bahwa suatu ketika, seseorang dari Suku Al-Bahili datang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia meminta diajari berpuasa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menasihatkan, “Puasalah sehari tiap bulan.” Orang ini mengatakan, “Saya masih kuat. Tambahkanlah!” “Dua hari setiap bulan.” Orang ini mengatakan, “Saya masih kuat. Tambahkanlah!” “Tiga hari setiap bulan.” Orang ini tetap meminta untuk ditambahi. Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasalah di bulan haram dan berbukalah (setelah selesai bulan haram).” (Hadis ini dinilai sahih oleh sebagian ulama dan dinilai dhaif oleh ulama lainnya).

Juga diriwayatkan bahwa beberapa ulama salaf berpuasa di semua bulan haram, di antaranya: Ibnu Umar, Hasan Al-Bashri, dan Abu Ishaq As-Subai’i.

Catatan: Bulan haram artinya bulan yang mulia. Allah memuliakan bulan ini dengan larangan berperang. Bulan haram, ada empat: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).
Artikel www.KonsultasiSyariah.com

 

 

Cara Sujud Wanita dalam Shalat

Tata Cara Sujud Untuk Wanita

Terdapat hadis dari Yazid bin Abi Hubaib bahwa dianjurkan bagi wanita untuk merapatkan tangan ketika sujud, tidak sebagaimana laki-laki. Namun hadis ini adalah hadis mursal, sebagaimana disebutkan oleh Abu Daud dalam Al Marasil (87/117). Dan hadis mursal termasuk hadis dlaif yang TIDAK bisa dijadikan dalil dalam syari’at.

Oleh karena itu, tata cara shalat laki-laki dan wanita pada asalnya adalah sama. Mengingat tidak adanya dalil yang membedakan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Ibnu Hibban dan dishahihkan Al-Albani)

Perintah dalam hadis ini mencakup laki-laki dan wanita. Karena perintah dalam hadis ini ditujukan kepada semua umat beliau tanpa kecuali. Allahu A’lam.

Diantara ulama yang berpendapat bahwa cara shalat laki-laki dan wanita sama adalah Ibrahim An Nakha’i. Beliau mengatakan: “Wanita melaksanakan shalat sebagaimana tata cara laki-laki melaksanakan shalat.” Kemudian, terdapat riwayat dari Ummu Darda’ bahwasanya beliau duduk ketika shalat sebagaimana duduknya laki-laki. Dan Ummu Darda’ adalah seorang ulama wanita.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa tata cara sujud wanita sama dengan tata cara sujud laki-laki. Allahu A’lam.

Tidak Mampu Sujud Dengan Sempurna

Orang yang tidak mampu meletakkan salah satu dari tujuh anggota sujud maka diwajibkan baginya untuk sujud semampunya. Misalnya, salah satu tangannya, kakinya, atau keningnya terluka maka dibolehkan baginya untuk sujud dengan anggota badan lainnya yang masih bisa ditempelkan di tanah. Allah berfirman:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Bertaqwalah kepada Allah semampu kalian.” (QS. At-Taghabun: 16)

Kemudian, bolehkah orang yang kesulitan sujud untuk hanya berisyarat tanpa melakukan sujud?

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin memberikan rincian:

  1. Jika orang ini mampu melakukan gerakan, dimana posisi tubuhnya lebih dekat pada posisi sujud sempurna dari pada posisi duduk sempurna maka wajib bagi orang ini untuk sujud dengan bertumpu pada anggota sujud yang bisa menempel tanah.
  2. Jika orang ini tidak mampu melakukan gerakan seperti di atas maka dia tidak wajib sujud namun cukup melakukan gerakan isyarat sebagai ganti sujud.

Catatan:  gerakan isyarat sujud ini dilakukan dengan menundukkan badan pada posisi yang lebih rendah dari pada rukuk.

Artikel www.CaraShalat.com

Buku Muslimah : Wanita Karir

Wanita Karir

T E R L A R I S ! ! !

Harga : Rp. 40.000 Rp. 32.000
Hemat : 20 %

Penulis : Adnan bin Dhaifullah Alu asy-Syawabikah

Sinopsis :

Wanita Karir

Profesi Wanita di Ruang Publik yang Boleh dan yang Dilarang dalam fiqih Islam

Dalam Islam, kaum wanita sangat dimuliakan dan dihormati. Kedatangan Islam sendiri antara lain mempunyai misi untuk mengangkat derajat kaum wanita yang ketika itu berada pada posisi marjinal, terpuruk dan dihinakan. Namun seiring berjalannya waktu, ketika derajat kaum wanita sudah terangkat dan menjadi terhormat, persoalan baru muncul : kaum Hawa ini menuntut persamaan hak dengan kaum laki-laki di ruang publik. Yang diantara wujudnya adalah dibolehkannya mereka untuk bekerja di luar rumah, menjadi wanita karir.

Apakah Islam benar-benar melarang mutlak kaum wanita untuk bekerja di ruang publik? Atau justru membolehkannya dengan beberapa syarat dan ketentuan? Jika demikian, bidang-bidang profesi apa sajakah yang bisa, mungkin dan dibolehkan untuk dimasuki oleh kaum wanita? Buku ini merangkum pandangan-pandangan ulama yurisprudensi Islam (fuqaha’) dalam masalah tersebut.

 

info dan pemesanan lebih lengkap bisa hub.in 0856 9124 2288 (ratna ummu sarah)

http://rumahhumairoh.com/buku-muslimah-wanita-karir.html

Buku Muslimah : Wasiat 4 Putriku

Wasiat 4 Putriku

Harga : Rp. 34.000 Rp. 27.200
Hemat : 20 %

Penulis : Bismi Abdul Rasyid

 

Sinopsis :

Wasiat Untuk Putriku

 

Wasiat seorang ayah yang penuh kasih sayang kepada putrinya yang sangat ia kasihi. Nasihat – nasihatnya begitu menyentuh.

Jika dibaca oleh sang ayah, akan menyadarkanya bahwa alangkah besarnya anugerah Allah SWT kepadanya. Allah SWT telah memberikan keturunan yang akan meneruskan perjuangannya.

Dan apabila ini di baca oleh sang anak, maka ia akan merasakan betapa besarnya kasih sayang dan kekhawatira orang tuanya terhadap keselamatan dirinya di dunia dan di akhirat. Jiwanya akan merasa diperhatikan dan dilindungi.

Jika keduabelah pihak membaca ini, maka Insya Alah jalinan kasih sayang antara orang tua dan anak akan semakin tumbuh dengan kuat dan harmonis, di bawah naungan kasih sayang Allah SWT yang tiada tara terhadap mereka

 

info dan pemesanan lebih lengkap bisa hub.in 0856 9124 2288 (ratna ummu sarah)

http://rumahhumairoh.com/buku-muslimah-wasiat-4-putriku.html

Buku Muslimah : 52 Persoalan Sekitar Hukum Haid

Soal Haid

 

Harga : Rp. 5.000
Penulis : Syaikh Muhammad Bin Shalih al-Utsaimin

 

Sinopsis :

Buku ini berisi petunjuk hukum – hukum ynag berkaitan dengan haid yang patut diketahui. Diantaranya adalah :

–        Hukum shalat dan puasa wanita yang mengalami keguguran

–        Jika suci dari haid pada waktu ashar, apakah harus shalat dzuhur pula ?

–        Keluarnya darah wanita hamil, apakah berpengaruh terhadap shalat dan puasa ?

–        Wanita yang suci dari haid, tetapi tidak mendapati lendir putih

–        Hukum membaca Al – Qur’an bagi wanita haid dan nifas

–        Wanita yang kedatangan haid setelah masuk waktu shalat tetapi belum shalat

–        Keluarnya cairan apakah berpengaruh terhadap wudhu ?

–        Keluarnya kotoran sebelum atau sesudah haid

–        Dan masalah – masalahlainnya

 

info dan pemesanan lebih lengkap bisa hub.in 0856 9124 2288 (ratna ummu sarah)

http://rumahhumairoh.com/buku-muslimah-52-persoalan-sekitar-hukum-haid-dalam-shalat-puasa-haji-dan-umrah.html

Previous Older Entries